Senyum dan tawamu adalah penyemangatku…

GambarSudah tercatat dalam schedule saya, kamis sore adalah waktunya dampingan. Untuk itu, tak jarang saya harus menyelesaikan tugas lebih awal agar di waktu tersebut saya tetap bisa mendampingi adik-adik saya di tempat pendampingan Condro I.  Beberapa kali saya juga harus berangkat dampingan dari kampus saat jadwal kuliah sangat ‘mepet’ dengan jadwal dampingan, karena tidak mungkin lagi bagi saya untuk pulang kerumah hanya sekedar untuk mandi sore saja. Tetapi di sisi lain saya tetap bersyukur karena saya memiliki teman-teman yang sangat baik hingga mereka mengizinkan saya untuk sedikit melepas lelah dan menyegarkan tubuh di kost mereka yang tak jauh dari kampus. Saya merasa harus melakukan ini agar rasa lelah saya tak terlihat saat harus mendampingi adik-adik.

Sudah saya bayangkan senyum  dan canda mereka, adik-adik dampingan saya sebelum saya sampai di basecamp tempat berkumpul para pendamping. Dan setelah sampai di tempat dampingan, adik-adik yang berlari-lari menghampiri kami saat kami sudah tampak dari kejauhan sungguh menyenangkan hati saya. Ternyata kedatangan kami memang sudah ditunggu-tunggu. Namun,seperti kebanyakan orang sering merasa malas dan jenuh saat semua yang dilakukan hanya menjadi rutinitas belaka, saya juga pernah merasakan hal itu, tetapi sekali lagi keceriaan adik-adik menjadi penyemangat saya. Pernah juga saat dampingan sepi, pukul 16.30 lebih masih belum banyak adik-adik yang datang dan saat ada yang datangpun mereka tidak mau belajar. Sedih rasanya saat mengingat bahwa sebenarnya saya pun lelah, kemudian saya bertanya pada diri saya apakah tidak lebih baik bagi saya pada sore itu pulang kerumah, tidur atau sekedar beristirahat agar malam hari saya dapat belajar dengan tenang. Tetapi tidak semuanya adalah dinamika dan saya percaya bahwa ini tidak akan berlangsung lama. Hingga akhirnya adik-adik saya mau belajar dan diakhir dampingan kami bernyanyi dan bermain bersama.

Memang dampingan adalah kegiatan yang menyenangkan bagi saya karena pada waktu itu saya boleh sejenak melupakan tugas dan tanggungjawab saya sebagai seorang mahasiswa. Terutama saat kami boleh bercanda dan bercerita tentang apapun bersama para pendamping lain seusai pendampingan. Mungkin obrolan kami memang terkesan tidak mutu, tetapi inilah yang membuatnya menjadi lebih berwarna.

Saya bersyukur karena saya diberi kesempatan untuk melayani dan menjadikan hidup dan diri saya bermanfaat bagi oranglain. Thx

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s